My video, please watching this and i hope you like this ;)

Minggu, 01 April 2012

Makalah "FILSAFAT"


BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN FILSAFAT
Kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata philosopia (latin),philosopi (inggris),philosophic (jerman,belanda,prancis),falsafah (bahasa arab).semua istilah itu bersumber pada istilah bahasa yunani philosofia.istilah tersebut dari pbilein yang berarti mencintai,sedangkan philos yang berarti teman ,kawan sahabat.selanjutnya istilah shopos yang berarti bijasana sedangkan sofia yang berarti kebijaksanaan.
       Ada dua arti secara etimologis dari filsafat yang sedikit berbeda.pertama,apabila istilah filsafat mengacu kepada asal kata philein dan sopos,maka artinya mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana di maksudkan sebagai kata sifat).kedua.apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan sopia,maka arti ya adalah teman/kawan/sahabat kebijaksanaan (kebijaksanaan di maksudkan sebagai kata benda).
       Filsafat yang dijabarkan dari perkataan philosipia dari bahasa Yunani tersebut yang berarti : cinta akan kebijaksanaan (love of wishdom) menurut tradisi phytAGORAS DAN SOCRATES LAH YANG pertama-tama menyebut diri sebagai philosopos ,yaitu sebagai clotes terhadap kaum shophisp ,kaum terpelajar pada waktu itu yang menanamkan dirinya bijaksana padahal kebijaksanaan mereka itu hanya semu saja.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu.
           Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
            Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan.
            Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal
B.  PENGERTIAN ILMU
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia[1]. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya[2].
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.

Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiahsesuatu dapat disebut sebagai ilmu[4]. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1.     Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2.     Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.     Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.     Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
C.  PENGERTIAN AGAMA
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi.. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yg dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Dalam arti luas, agama mempunyai makna bahwa manusia yang beragama atau menjalankan aturan agama maka hidupnya tidak akan kacau balau.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.
Cara Beragama
1.    Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya.
2. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.
3. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.
4. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.


Keterkaitan dan perbedaan antara filsafat,ilmu dan agama
D. FILSAFAT DAN ILMU
            Di katakana filsafat sebagai ilmu karena dalam pengertian filsafat terkadung 4 pertanyaan ilmiayah,yaitu : bagaimanakah,mengapakah,kemana dan apakah.
            Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat di tangkap atau yang tampak oleh indra.jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat desriptif (penggambaran).
            Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) satu objek .jawaban atau pengetahuan yang diperoleh kausalitas (sebab akibat).
            Pertanyaan kemana menanyakan tentang apa yang terjadi dimasa lampau,masa sekarang dan masa yang akan dating.
            Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dan suatu hal .hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris,sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal.jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya ini kita akan dapat mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum ,universal,abstrack.
Dengan demikian  kalau ilmu-ilmu yang lain (selain filsafat) bergerak dari tidak tahu kepada  tahu ,sedangkan ilmu filsafat bergerak dari tidak tahu selanjutnya kepada kakikat. [1] 
Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat,haruslah dilakukan denga abstraksi,yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan.sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidak harus ada/aksidensa).Sehingga akhirnya tinggal keadaan atau sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansial,maka pengetahuan hakekatnya dapat diperolehnya  [1]
Kaitan antara filsafat dan ilmu kita dapat mengatakan bahwa setiap ilmu memiliki objek tersendiri dan metode pendekatan yang khusus sesuai dengan cirri ilmu dan tujuan yang mau dicapai ilmu bersangkutan.
Karena objek ilmu itu sangat beragam sesuai dengan keragaaman ilmu-ilmu maka sistematisasi dan pendekatannya pun amat berbeda.
Justru karena itu ilmu yag satu selalu berbeda dengan ilmu yang lain.hakikat filsafat adalah usaha mencari terus menerus dan dengan demikian kita senan tiasa memperdalam ketidaktahuan kita.Sedangkan ilmu filsafat dilain pihak ,memiliki totalitas sebagai objek yang tertutup seperti ilmu-ilmu lain,melainkan sesuatu keterbukaan total dan radikal terhadap realitas.Dia akan terus menerus bertanya sampai akhir,bahkan dia masih akan bertanya mengapa ilmu-ilmu hanya bisa sampai pada titik dimanatujuannya sudah tercapai. [2]
Secara umum dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dalam satu arti memiliki objek yang sama yakni segala sesuatu yang dapat diketahui.juga filsafat sebagai ilmu dan ilmu pengetahuan bersama-sama mengarah kepada kebenaran.
Perbedaan terletak dalam tujuan yakni filsafat terarah pada totalitas sedangkan ilmu-ilmu menyelidiki bagian-bagian tertentu dari totalitas ssesuai dengan maksud dan tujuan ilmu bersangkutan.
Disini saya memberikan contoh antara filsafat sebagai ilmu dan ilmu,di perbukitan tumbuh pohon kelapa yang menghiasinya,bagian pohon kelapa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap para ilmuan,seorang dokter atau ahli kimia lebih melihat daging buat atau air buah kelapa sebagai bahan dasar obatan,pembersih atau penghalau racun dalam tubuh dan lain-lain.
Baik ilmu mau pun filsafat sama-sama mencari pengetahuan dan pengetahuan yang dicari itu ialah pengetahuan yang benar.dengan segi ini maksud kedua-duanya sama,tetapi dalam persamaan itu ada perbedaan.Pengetahuan ilmu melukiskan,sedangka pengetahuan filsafat menafsirkan. [3]  
E. FILSAFAT DAN AGAMA
            Setelah kita tahu definisi agama ,dan definisi filsafat ,kita cari hubungan /keterkaitan dab perbedaan antara filsafat dan agama.
            Dialog yang abadi terkandung dalam konfrontasi filsafat dan agama.Agama mengejek filsafat ,bahwa setelah beribu-ribu tahun filsafat itu mencari kebenaran ,yang di temukan hanyalah kebenaran semu,,tiap saat iya mengira mendapat kebernaran untuk disongsikan ,dikritik dan ditinggalkannya lagi,mencari kebenaran yang sesungguhnya. Lihat kami,kata agama,kami percaya titik.Dengan demikian kami tidak membuang-buang waktu untuk berfikir mencari kebenaran ,yang setelah diperdapat ditinggalkan lagi,karena ternyata tidak benar.Ketahuilan,budi manusia itu nisbi.Ia tidak akan mungkin menangkap kebenaran yang sesungguhnya.Hatilah yang mampu menangkap kebenaran yang sejati.
            Filsafat menjawab dengan ejekan pula,kami ingin kebenaran yang kami usahakan dengan tenaga kami sendiri,kami tidak seperti anak kecil yang mudah percaya saja tentang apa yang dikatakan kepadanya.Dan sesungguhnya kegembiraan itu bukan terletak pada kebenaran itu sendiri tapi dalam mencarinya. [4]
                Persamaan antara filsafat dan agama adalah masing-masing merupakan sumber nilai terutama nilai etika.Perbedaannya lagi dalam halim,nilai-nilai etika filsafat merupakan produk akal,sedangkan nilai-nilai agama dipercayai sebagai ditentukan oleh Tuhan ,sepanjang dipercaya bahwa agama langin dibentuk oleh wahyu ,sedangkan agama budaya dilahirkan oleh filsafat. [5]
                Nilai-nilai etika filsafat berubah-ubah menurut ruang dan waktu ,seirama dengan perubahan cara berfikir dan merasa manusia lah nisbi sekali.sedangkan nilai-nilai etika agama (agama langit) mengatasi ruang dan waktu ,abadi ,bahkan mengatasi peralihan dunia kepada akhirat.Ia dan pembalasan perbuatan etika menurut agama itu adalah pasti.
            Baik filsafat ataupun agama menentukan norma-norma baik dan buruk.Perbedaan besar antara filsafat dan agama,antara suatu filsafat dengan filsafat lain,antara suatu agama dengan agama yang lain ialah,mana-manakah yang buruk itu.Perbedaan perbedaan inilah yang membedakan filsafat dan agama,antara filsafat dan antara agama dan agama. [6]


[1] Drs.H.A Fuad Ihsan ,2010,”filsafat ilmu” Jakarta : Rineka Cipta ,hal 4-5
[2]  Bdk.kondar kebung,”dasar-dasar filsafat dan logika” (mans) ,Ledalero 2005,halm 47
[3] Drs.H.A Fuad ihsan (2010) “filsafat Ilmu” Jakarta : renika cipta ,hal 59
[4] Drs.H.A Fuad ihsan (2010) “filsafat Ilmu” Jakarta : renika cipta ,hal 79-80
[5] Drs.H.A Fuad ihsan (2010) “filsafat Ilmu” Jakarta : renika cipta ,hal 81
[6] Drs.H.A Fuad ihsan (2010) “filsafat Ilmu” Jakarta : renika cipta ,hal 82

F. Kesimpulan Hubungan dan Keterikatan Persamaan dan Perbedaan Ilmu
     Pengetahuan, Filsafat, dan Agama
Dari pembahasan diatas bisa kita tambahkan bahwa hubungan dan keterkaitan antara ilmu pengtahuan,filsafat dan agama yakni Titik temu atau hubungan dari ketiga disiplin ilmu itu adalah bahwa ilmu menggunakan pengamatan, eksperimen, dan pengalaman inderawi kemudian filsafat berusaha menghubungkan penemuan-penemuan ilmu dengan maksud menemukan hakikat kebenaran dan agama menentukan arah dalam mendapatkan kebenaran yang hakiki itu berlandaskan pada keyakinan dan keimanan.
 Dari hubungan dan keterkaitan kita bisa tambahkan persamaan dan perbedaan ilmu pengetahuan ,filsafat,dan agama.dan persamaan yang kita tau secara umum yakni  mencari hakikat kebenaran.Ada pula perbedaannya,bisa kita lihat pada table dibawah ini
Pembeda ,
Ilmu Pengetahuan
Filsafat
Agama
Sumber

ra’yu manusia (akal budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft)

ra’yu manusia (akal budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft).

Wahyu ilahi

Jalan mencari kebenaran

penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen)

eksploirasi akal budi secara radikal

mempertanyakan berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.

Sifat kebenaran

positif (berlaku sampai saat ini)
spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset, dan eksperimen)

mutlak (absolut)

Sikap

sanksi dan tidak percaya

sanksi dan tidak percaya

percaya atau iman


G. Metode Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Agama Dalam Memperoleh Kebenaran
1. Metode Ilmu Pengetahuan
a. Observasi (pengamatan)
            Setiap ilmu pengetahuan empiris selalu dimulai dengan pengamatan-pengamatan yang seksama untuk mengenal dan mengukur dengan tepat gejala-gejala yang ada. Biasanya alat indera kita tidak mampu untuk mengadakan pengamatan-pengamatan yang begitu teliti, maka dari itu kita sering mengggunakan alat-alat pembantu pengamatan seperti mikroskop, teleskop, fotografi, termometer, dan lain sebagainya.
b. Hipotesis
            Setelah kejadian-kejadian dikonfrontir kemudian orang–orang mencari hukum-hukum yang dianutnya dan mencari hubungan-hubungan itu satu sama lain. Hipotesis itu memberikan keterangan untuk sementara, selama belum diketemukan keterangan yang sesungguhnya.
c. Eksperimen (percobaan)
            Setelah orang menemukan hipotesis, maka segera diadakan penelitian apakah hipotesis itu benar atau salah.
d.Induksi
            Induksi itu untuk merumuskan atau membuat suatu formula dari hukum-hukumnya.
2. Metode filsafat
a.     Metode Reductio Ad Absurdum
        Metode ini dikembangkan oleh Zeno, Metode ini adalah metode yang ingin meraih kebenaran, dengan membuktikan kesalahan premis-premis lawan, yang caranya dengan mereduksi premis lawan menjadi kontradiksi sehingga kesimpulannya menjadi mustahil.
b.    Metode Maieutik Dialektis Kritis Induktif
        Metode Maieutik dikembangkan oleh Sokrates. Filsafat menolong manusia melahirkan kebenaran seperti layaknya ibu melahirkan bayinya. Maka, tugas filsafat adalah tugas untuk menjadi bidan yang menolong manusia melahirkan kebenaran. Metode itu disebut dengan metode teknik kebidanan (maieutika tekhne).
c.    Metode Deduktif Spekulatif Transendental
       Metode ini dikembangkan oleh Plato, murid dari Sokrates. 
        Dasar seluruh filsafat Plato adalah ajaran ide. Ajaran ide Plato ini melihat bahwa idea  adalah realitas yang sejati dibandingkan dengan dunia inderawi yang ditangkap oleh indera.

d.      Metode Silogisme Deduktif
Metode ini dikembangkan oleh Aristoteles.
            Aristoteles menyatakan bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan yang benar, yaitu metodeinduktif dan deduktif. Induksi adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari hal yang khusus. Deduksi adalah cara menarik kesimpulan berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan tak diragukan lagi. Induksi berawal dari pengamatan dan pengetahuan inderawi. Sementara, deduksi terlepas dari pengamatan dan pengetahuan inderawi.
e.       Metode Intuitif-Kontemplatif Mistik
Metode ini berkembang dengan ide Plotinos dengan ajaran Neo-Platonisme.
            Yang Esa merupakan yang awal atau yang pertama, yang paling baik, yang paling tinggi dan yang kekal.Yang esa tidak dapat dikenali oleh manusia karena hal itu tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga.
f.   Metode Skolastik: Sintetis-Deduktif
            Filsafat Skolastik menemukan puncak kejayaannya waktu Thomas Aquinas menjadi filsuf pokoknya. Prinsip deduktif adalah prinsip awal dari filsafat skolastik. Bertitik tolak dari prinsip sederhana yang sangat umum diturunkan hubungan-hubungan yang lebih kompleks dan khusus.
g.  Metode Skeptisisme
            Metode Skeptisisme ini dikembangkan oleh Rene Descartes. Descartes berpendapat manusia harus menjadi titik berangkat pemikiran yang rasional. Untuk mencapai kebenaran, rasio harus berperan semaksimal mungkin
h.  Metode Kritis-Transendental
            Metode kritis transendental dikembangkan oleh Immanuel Kant. Filsafat Kant menekankan pengertian dan penilaian manusia, bukan dalam aspek psikologis melainkan sebagai analisa kritis. Objektivitas menyesuaikan diri dengan pengertian manusia.
i.   Metode Idealisme-Dialektis
            Metode dialektis dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel. Jalan pikiran Hegel untuk memahami kenyataan adalah mengikuti gerakan pikiran dan konsep.
j.   Metode Eksistensial
            Metode eksistensial pertama diungkapkan oleh Kierkegaard. Metode eksistensial berupaya untuk memahami manusia yang berada dalam dunia, yaitu manusia yang berada pada situasi yang khusus dan unik.
k.  Metode Fenomenologis
            Peletak dasar metode fenomenologis adalah Edmund Husserl. Pengembangan metode fenomenologis mengarah pada pemusatan perhatian kepada fenomena tanpa praduga
l.   Metode Analitika-Bahasa
            Filsafat analitik menolak metafisika karena mereka berpendapat bahwa metafisika tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salah satu tokoh filsuf analitik adalah Ludwig Wittgenstein.
3. Metode Agama
Dalam agama untuk mendapatkan kebenaran manusia mempertanyakan berbagai masalah dari atau kepada kitab suci, karena pada dasarnya kebenaran agama abersifat absolut (mutlak) yang tak akan berubah dari masa ke masa.
            Disamping itu selain mencarinya sendiri manusia juga harus menerima hal-hal yang diwahyukan tuhan, dengan kata singkat percaya atau iman.









BAB III
PENUTUP
            Demikian makalah tentang wawasan Nusantara yang saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
1. Drs.H.A Fuad ihsan (2010) “filsafat Ilmu” Jakarta : renika cipta
2. Bdk.kondar kebung,”dasar-dasar filsafat dan logika” (mans) ,Ledalero 2005
4. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar